• Thu. Aug 13th, 2026

Amanat Riau

Jujur Amanat dan Terpercaya

Kepala Sekolah SMKN2 Live di Tiktok Bukan Dalam Belajar Mengajar

Byadmin

Aug 13, 2026

AMANATRIAU.COM DUMAI— Pejuang guru, Erwin Sitompul, memberikan pandangan terkait sorotan terhadap aktivitas siaran langsung (live) TikTok yang dilakukan Kepala SMKN 2 Dumai, ZN, di tengah jam kerja.

‎Menurut Erwin, aktivitas tersebut perlu dilihat secara utuh dan tidak semata-mata dari sisi tampilan atau potongan aktivitas selama siaran langsung. Ia mengatakan, kegiatan tersebut pada dasarnya memiliki tujuan yang berkaitan dengan pengembangan potensi kewirausahaan dan komunikasi digital di lingkungan sekolah.

‎“Kegiatan TikTok tersebut sebenarnya diikuti dengan tujuan untuk mencoba menumbuhkan jiwa entrepreneur siswa, terutama melalui kemampuan mempromosikan dan memasarkan produk. Kita melihat saat ini banyak orang yang memiliki pengikut di TikTok mampu memperoleh penghasilan melalui aktivitas penjualan dan promosi secara digital,” ujar Erwin.

‎Menurutnya, perkembangan media sosial saat ini merupakan bagian dari perubahan pola pemasaran dan komunikasi yang perlu dipahami oleh siswa, khususnya siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang salah satu orientasinya adalah menyiapkan lulusan agar memiliki kompetensi kerja sekaligus kemampuan berwirausaha.

‎“Ini juga sejalan dengan salah satu tujuan pendidikan di SMK, yaitu bagaimana membekali siswa agar memiliki kemampuan berwirausaha. Karena itu, pemanfaatan media digital, termasuk TikTok, menurut saya dapat menjadi salah satu sarana pembelajaran apabila digunakan dengan tujuan dan cara yang tepat,” katanya.

‎Selain aspek kewirausahaan, Erwin menjelaskan bahwa keberadaan media sosial sekolah juga dapat dimanfaatkan untuk memperkuat komunikasi antara sekolah dengan para alumni.

‎Menurutnya, alumni yang telah bekerja dapat menjadi bagian dari jejaring informasi bagi sekolah, termasuk dalam penyampaian informasi mengenai peluang kerja atau job vacancy kepada lulusan maupun siswa yang membutuhkan.

‎“Tujuan lainnya adalah sebagai salah satu media informasi untuk menjalin hubungan dengan alumni, baik alumni yang sudah bekerja maupun alumni yang membutuhkan informasi lowongan pekerjaan. Ini merupakan jaringan yang penting bagi sekolah,” jelasnya.

‎Erwin juga menyoroti pentingnya pemanfaatan media sosial untuk meningkatkan partisipasi alumni dalam pengisian tracer study sekolah. Menurutnya, tingkat partisipasi dalam tracer study yang masih rendah membutuhkan strategi komunikasi yang lebih luas agar informasi tersebut dapat menjangkau para alumni.

‎“Untuk menyampaikan berbagai informasi tersebut, tentu sekolah membutuhkan pengikut atau audiens yang cukup. Salah satu bagian dari upaya membangun audiens tersebut adalah dengan mengikuti kegiatan live,” ujarnya.

‎Terkait adanya anggapan bahwa aktivitas tersebut mengandung bahasa atau komunikasi yang tidak pantas, Erwin mengatakan bahwa berdasarkan penjelasan yang diterimanya, selama kegiatan live berlangsung tidak terdapat bahasa maupun ucapan yang bersifat vulgar, tidak sopan, atau mengarah pada hal-hal sebagaimana yang dituduhkan.

‎“Yang perlu kita lihat adalah konteks dan tujuan kegiatannya. Kalau memang tidak terdapat ucapan yang vulgar, tidak sopan, atau mengandung hal-hal yang melanggar norma, tentu persoalan ini sebaiknya tidak langsung disimpulkan hanya berdasarkan persepsi terhadap sebuah tayangan,” kata Erwin.

‎Meski demikian, Erwin menilai bahwa sebagai seorang kepala sekolah sekaligus figur yang menjadi panutan bagi guru dan siswa, setiap aktivitas di media sosial tetap perlu dilakukan dengan mempertimbangkan etika, kepatutan, serta citra lembaga pendidikan.

‎“Apalagi yang bersangkutan merupakan kepala sekolah dan menggunakan atribut kedinasan. Karena itu, ke depan tentu perlu ada kehati-hatian dalam membuat konten atau melakukan live agar tujuan positif dari kegiatan tersebut tidak justru menimbulkan persepsi yang berbeda di tengah masyarakat,” tuturnya.

‎Erwin berharap persoalan tersebut dapat disikapi secara objektif dan proporsional dengan terlebih dahulu melihat keseluruhan konteks kegiatan, tujuan pendidikan yang hendak dicapai, serta fakta mengenai apa yang sebenarnya terjadi selama siaran berlangsung.

‎“Jangan sampai niat baik untuk membangun kewirausahaan siswa, memperluas jaringan alumni, menyampaikan informasi lowongan pekerjaan, dan meningkatkan tracer study justru tertutup oleh persepsi yang muncul dari sebuah tayangan. Tetapi pada saat yang sama, aspek etika dan kepatutan tetap harus menjadi perhatian,” pungkasnya.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *