• Sat. May 2nd, 2026

Amanat Riau

Jujur Amanat dan Terpercaya

Hitam Lahan Karhutla Menjadi Hijau Bak Permadani, Pembangkit Ekonomi Bukti Pertamina Peduli

Foto : Istimewa

DUMAI – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) selama ini menjadi momok menakutkan bagi petani. Setiap musim kemarau tiba para petani selalu waspada menjaga kebunnya dari si “jago merah”. Terutama petani sawit yang berkebun diatas tanah gambut.

Pernah suatu masa, negeri kita diledek negara tetangga sebagai pengekspor asap paling utama. Namun itu cerita lama takkan terulang kembali karena penanganan karhutla prioritas utama. Efek jera dilakukan bagi pelaku pembakaran hukuman berat siap menunggu.

Persoalan Karhutla momok bagi semua ternyata menjadi perhatian dan kepedulian Pertamina. Awal bermula cerita berkat Program Pemberdayaan Petani Lahan Gambut yang digagas PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Refenery Unit (RU) Dumai.

Program ini bukan sekadar inisiatif sosial biasa, ia hadir sebagai bukti nyata. Bahwa pemulihan lingkungan dan peningkatan taraf hidup masyarakat bisa sejalan dan beriringan. Melalui payung besar Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), Kilang Pertamina Dumai menghadirkan energi perubahan. Dengan pemberdayaan petani lokal untuk mengolah kembali lahan bekas Karhutla agar bernilai ekonomi tinggi sekaligus lestari.

Siapa sangka, di atas lahan gambut yang dahulu menghitam dilalap api. Kini berubah menjadi hamparan tumbuhan hortikultura bak sebuah permadani. Dari cabai, jagung, hingga okra, menjadi bukti bahwa luka alam bisa disembuhkan dan sekaligus menjadi sumber ekonomi.

Mayudi alias Rudi bersama para petani sawit lainnya menyambut inisiasi Pertamina. Sebuah solusi mencegah Karhutla namun berdampak positif pada peningkatan ekonomi.

Bersama Kelompok Masyarakat (Pokmas) Alam Tani, berdiri Tahun 2022 menjadi garda terdepan dalam program ini. Rudi yang dahulu hanya mengandalkan panen sawit penopang ekonomi. Kini bersama 17 orang lainnya berhasil mengelola lahan bekas Karhutla.

Seluas 10 Hektare berlokasi di Kelurahan Tanjung Palas, Kecamatan Dumai Timur, Kota Dumai. Program Pemberdayaan Petani Lahan Gambut bermula dengan binaan PT KPI RU Dumai.

Kepada media Rudi bercerita bahwa Pokmas yang dipimpinannya sangat berterima kasih kepada Pertamina. Karena membantu kami dengan berinovasi dari sebuah masalah menjadi sumber rezeki.

“Awalnya hanya bisa mengelola seadanya karena keterbatasan modal dan ilmu, saat Pertamina datang dengan program Rehabilitasi Lahan Gambut, kami merasa seperti mendapat napas baru sebagai pengerak roda ekonomi baru,” kenang Rudi.

Lanjutnya “Semakin lama luas lahan yang diolah semakin bertambah untuk menanam tanaman holtikultura, namun ada satu bintang baru tanaman bernama okra, yang dikenal dengan sebutan Lady’s Finger, memiliki potensi luar biasa hanya butuh waktu sekitar 45 hari untuk panen pertama lalu bisa dipetik selanjutnya hingga 8–9 bulan lamanya,” terang Rudi melanjutkan kalimatnya.

Harga okra di pasaran relatif stabil di kisaran Rp20.000–25.000 per/kilogram. Sejak Juli lalu disebutkan, Pokmas Alam Tani sudah mampu memanen 20 kilogram okra yang langsung dipasarkan ke pasar-pasar Tradisional di Kota Dumai.

“Okra punya pasar lokal yang potensial, begitupula untuk pasar global yang cukup luas salah satunya negara Jepang, Itu sebabnya kami menjadikan sebagai komoditas unggulan,” jelas Ucok anggota Pokmas lainnya dengan bangga.

Cerita tak hanya berhenti pada okra, program ini terus berkembang dengan mendorong diversifikasi tanaman. Sorgum, jagung, kacang panjang, kopi, coklat, hingga buah matoa kini ikut ditanam. Bahkan sorgum menjadi salah satu komoditas strategis, tidak hanya untuk bahan pangan tetapi juga energi alternatif.

Ucok juga menyampaikan, jalan sebagai akses untuk mengeluarkan hasil panen menjadi masalah baru. “awalnya kami sukses dalam mengelola kebun tetapi kami gagal mengeluarkan hasil panen disebabkan akses jalan yang tidak memadai, tapi alhamdulillah Pertamina datang bukan sekadar membantu kami untuk mengelola kebun saja tetapi juga mereka datang memperbaiki jalan kami sehingga hasil panen kami lancar hingga sampai ke pasar” jelas Ucok.

Pihak Kilang Pertamina Dumai turut menghadirkan pelatihan agar hasil panen bisa dijadikan produk olahan sehingga mendapat nilai tambah. Pada Februari lalu digelar pelatihan pembuatan mie sehat dari tepung sorgum. Istri-istri petani dan warga sekitar dilatih langsung oleh pakar pangan, Ketua Koperasi Sorghum Nusantara, Yudith Sriwulandari.

Kini mereka mampu memproduksi beragam olahan seperti mie ayam, spaghetti, hingga kue kering berbahan sorgum. Lebih jauh hasil panen sorgum Pokmas Alam Tani diintegrasikan ke dalam UMKM lokal. Melalui kelompok Sehati yang kemudian berkembang menjadi UMKM Wirani Rejosari, melahirkan berbagai inovasi seperti brownies, cookies, dan keripik sorgum. Produk ini mulai menembus pasar oleh-oleh khas Dumai, memperluas manfaat program hingga ranah ekonomi kreatif.

Pertamina menyatakan melalui Agustiawan, Area Manager Communication, Relations, & CSR PT KPI RU II Dumai. Bahwa program Rehabilitasi Lahan Gambut bagian dari visi besar Pertamina ikut menjaga lingkungan.

“Sebagai entitas energi, kami tidak hanya bertugas menjaga kelancaran pasokan BBM dan energi nasional, tetapi juga berperan dalam mendukung ketahanan pangan, pemberdayaan masyarakat, dan pelestarian lingkungan,” jelasnya beberapa waktu lalu ke awak media.

Menurutnya sektor pertanian memiliki peranan vital, bukan hanya karena menjadi tumpuan pangan nasional, tetapi juga pilar perekonomian masyarakat. Dengan mendampingi petani gambut, Kilang Dumai ingin memastikan keberlanjutan program untuk jangka panjang.

“Produk pertanian menjadi kebutuhan pokok untuk ketahanan pangan nasional, sedangkan bagi petani menjadi sumber ekonomi untuk kebutuhan keluarga, dengan ikut berpartisipasi Pertamina ingin menciptakan pilar ekonomi potensial berkelanjutan untuk masa yang lama,” pungkasnya.

Tak terasa telah tiga tahun lebih berjalan, dampak program inisiasi Pertamina semakin terasa. Merestorasi 10 hektare lahan akibat Karhutla dari ancaman berulang. Juga meningkatkan penghasilan petani secara signifikan.

Setiap anggota Pokmas kini mampu meraup pendapatan rata-rata Rp7 juta perbulan. Angka sangat luar biasa dan tidak lagi selalu tergantung pada hasil panen sawit.

“Merasa lebih percaya diri lebih mandiri, Pertamina tidak hanya memberi bantuan modal, tetapi juga ikut mendampingi dengan pelatihan, teknologi, dan akses pasar,” sampai Rudi.

Puncak kebanggaan sangat ketika bertepatan peringatan Hari Tani Nasional setiap 24 September. Bagi masyarakat Tanjung Palas perayaan ini bukan sekadar seremoni, melainkan simbol perubahan nyata untuk kebangkitan ekonomi mereka.

Hari Tani menjadi pengingat bahwa tangan-tangan petani adalah pilar ketahanan pangan nasional. Keberhasilan Pokmas Alam Tani adalah sebuah potret bagaimana kolaborasi antara perusahaan, masyarakat dan pemerintah bisa menghasilkan dampak berlapis. Lingkungan terjaga, ekonomi tumbuh, dan kesejahteraan masyarakat meningkat.

Agustiawan menambahkan “Pertamina sangat percaya bahwa keberhasilan ini bukan milik mereka sendiri, melainkan hasil gotong royong, dan Pertamina akan terus hadir mendampingi agar petani lokal semakin berjaya dan mampu berdaya saing tinggi untuk menghadapi tantangan masa depan, yang semakin komplek karena itu inovasi dan kolaborasi terus dilakukan tanpa ada kata berhenti,”

Sedangkan Pemerintah Kota Dumai sangat berterima kasih yang sebesar-besarnya kepada PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Unit Dumai atas kepedulian dan dukungannya melalui program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (TJSP) yang telah diberikan kepada masyarakat.

“Adapun bantuan berupa program pembinaan kepada Kelompok Alam Tani merupakan bentuk nyata komitmen perusahaan dalam mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat serta menciptakan peluang ekonomi berbasis lingkungan,” ungkap Untung Effendi, S., Sos Lurah Tanjung Palas mengapresiasi program TJSP Pertamina.

“Melihat program ini sebagai langkah positif dalam memperkuat hubungan harmonis antara perusahaan dan masyarakat sekitar, sekaligus menjadi wujud sinergi nyata dalam upaya membangun kemandirian ekonomi lokal, diharapkan Kelompok Alam Tani dapat terus berkembang dalam meningkatkan produktivitas pertanian yang berkelanjutan,” sampainya lagi.

“Pemerintah Kelurahan Tanjung Palas siap mendukung dan mengawal pelaksanaan program ini agar berjalan efektif dan memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat. Semoga kerja sama baik antara PT Kilang Pertamina Internasional dan masyarakat Tanjung Palas dapat terus terjalin demi mewujudkan lingkungan yang maju, mandiri, dan sejahtera,” tutupnya kepada awak media, Kamis (9/10) pagi.

Kisah yang terjadi di Tanjung Palas dampak Karhutla adalah bukti nyata dari abu kebakaran bisa tumbuh kehidupan baru. Bahwa rehabilitasi bukan hanya memulihkan alam, tetapi juga membangkitkan harapan manusia.

Kilang Pertamina Dumai telah menunjukkan bahwa TJSP bukan sekadar formalitas melainkan komitmen nyata. Dengan memberdayakan petani gambut, mereka tidak hanya menyelamatkan lahan dari api. tetapi juga menyalakan bara semangat petani untuk terus tumbuh dan mandiri.

Di tanah yang dulu gelap dan penuh asap, kini tumbuh dedaunan hijau membawa pesan optimisme. Bahwa masa depan pertanian Indonesia ada di tangan mereka yang mau berkolaborasi, berinovasi, dan peduli. Pertamina menjadi garda terdepan dalam berinovasi menuju perubahan untuk para petani.***

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *