• Sun. Mar 3rd, 2024

PT.RSJ BANTAH PEKERJAAN PROYEK PENGAMAN PANTAI TERJADI TAKE OVER

Byadmin

May 15, 2023

Lokasi Penumpukan kayu crocok ribuan batang yang disebut-sebut masyarakat milik Perusahan Pembangunan pengaman pantai desa muntai barat yang terindikasi tidak cukup ukuran dan sebagian nya adalah kayu mangrove serta kayu hutan alam ilegal

AMANAT BENGKALIS – PT.Roberto Saut Jaya (SRJ) melalui staf lapangan nya Uje, membantah kalau pekerjaan proyek Pengaman Pantai pulau terluar Desa Muntai Barat yang diperoleh perusahan nya melalui proses lelang di BWS III Sumatra senilai Rp 15,2 Miliyar terjadi take over atau berpindah tangan ke pihak lain.

uje yang didampingi oleh maneger keuangan PT.RSJ ( Jefri) bersama dua orang rekanan lain nya mungkin utusan dari pihak perusahan, juga membantah kalau ribuan kayu crocok yang mereka beli dari masyarakat adalah kayu mangrove, yaitu kayu yang dilarang.

Cahayo Santoso ( PPK) Proyek Pengaman Pantai Desa Muntai Barat saat melakukan sosialisasi dengan masyarakat di Kantor Camat bantan 9/5/2023

Selai itu ia juga membantah kalau kayu crocok yang telah menumpuk di area dusun indah sari desa muntai barat ukuran nya kecil atau tidak sesuai spesipikasi yang ditentukan dalam dokumen kontkak proyek.

Namun begitu ia sempat mengakui kalau memang ada kayu jenis mangrove serta kayu berukuran kecil, namun telah mereke sorter dan jumlah nya tidaklah mencapai ribuan batang, hanya puluhan batang . Ujar nya beralasan.

Tak hanya cukup disitu, klarifikasi yang ia disampaikan kepada media ini terkait dengan pemberitaan media ini serta beberapa media lain sebelumnya berjudul

” PT.Roberto Saut Jaya,Terindikasi Tampung Ribuan Kayu Ilegal, APH Didesak Tindak Tegas”, bahkan staf tersebut yang ikut sama didampingi oleh dua orang warga Desa Muntai barat selaku pihak pengepul kayu dari masyarakat sebelum dijual kepihak perusahan, salah seorang nya adalah adik kandung dari kepala Desa Muntai barat (Ali), membantah kalau kepala Desa muntai barat terlibat selaku sub kontrak pengadaan kayu crocok ” saya tegaskan tidak benar pak, kalau kepala Desa Muntai Barat selaku sub kontrak pengadaan kayu crocok, yang benar nya adalah pak safri” ungkap uje beralasan.

Klarifikasi yang disampaikan oleh staf PT.RSJ diresto berlian hotel itu, ketika dijelaskan oleh tim Media bahwa pohon mangrove bukan hanya pohon (kayu) bakau saja yang sebagaimana mereka pahami dan sorter, akan tetapi yang dimaksud dengan pengertian mangrove adalah pohon atau kayu kayan yang tumbuh atau hidup di air payau.

Sedangkan diantara ribuan kayu crocok yang menumpuk di pinggiran jalan poros Bantan Timur -Muntai barat tepat nya areal dusun indah sari Desa Muntai barat punya PT.RSJ sebagian nya terdapat kayu mangrove jenis kayu bakau dan sebagain besar lagi kayu mangrove jenis tapi bukan bakau

Pemberitaan media ini sebelumnya mengangkat tidak hanya sebatas kayu crocok dari pohon mangrove semata, bahkan sejumlah kayu hutan alam lainya yang diduga ilegal seperti kayu Geronggang, trembasah, glam tikus dan lain-lain yang terdapat pada pada tumpukan kayu ribuan batang target untuk crocok proyek pengaman pantai desa muntai barat.

Terkait dengan tidak sesuainya ukuran besar kayu crocok yang dibantah oleh uje dalam pemeberitaan Media ini sebelum nya, jika benar- benar PT.RSJ berpedoman pada ketentuan dokumen lelang proyek Pembangunan Pengaman Pantai Pulau Terluar Propinsi Riau Tahap III Desa muntai Barat tahun 2023, sesuai sepesipikasi kayu crocok yang semesti digunaksan adalah ukuran 10-15 CM,L = 4M, atau ujung kayu 10 CM – pangkal kayu ukuran 15 CM, panjang 4 Meter.

Foto tanggal 13 mei 2023 saat pihak PT.ROBERTO SAUT JAYA melakukan klarifikasi terhadap pemeberitaan media ini sebelum nya di resto berlian hotel

Namun fakta dilapangan ribuan batang kayu yang ada di lokasi penumpukan, rasa nya sulit untuk mencari ukuran pangkal kayu ukuran 15 CM, ujung ukuran 10 Cm, yang ada boleh dikatakan rata-rata kurang lebih ukuran pangkal hanya di bawah 10 Cm, sementara ujung nya di perkira kurang lebih 7 cm kebawah.

mengacu pada sepesifikasi file dokumen lelang, untuk item persiapan sebelum pekerjaan dimulai, penyedia barang /jasa yang memperoleh pekerjaan wajib menyediakan antara lain
-Direksi Keet, -Barak Pekerja -Gudang. Adapun untuk direksi
keet ukuran nya 4 x 6 m ,dengan ketentuan minimal :
-Konstruksi Kayu
-Atap Seng
Gelombang
-Lantai Beton
Tumbuk 5 cm
-Dinding papan/kayu atau tripleks
-Jendela dan
Pintu

-Kantor pelaksana ukuran 3 x 4 m, dengan kondisi sebagaimana direksi keet.
Gudang berukuran secukupnya sebagai persyaratan pada umumnya dengan menjamin
keamanan dan kualitas terhadap bahan-bahan material yang ditempatkan.

Barak
kerja harus dapat menjamin keselamatan dan kemanan pekerja, serta terjamin
terhadap kesehatan. Direksi Keet, barak kerja dan gudang harus berada dekat lokasi
pekerjaan, mudah di jangkau dan dapat mendukung kelancaran pekerjaan
dilapangan. Segala biaya yang berhubungan dengan direksi keet, barak kerja dan
gudang menjadi tanggung jawab penyedia barang/jasa. Bila ditentukan lain maka
penyedia barang/jasa dapat melakukan perjanjian sewa-menyewa dengan pihak
ketiga untuk bangunan-bangunan tersebut dengan ketentuan sesuai persyaratan dan
disetujui oleh direksi.
Air Bersih (Tawar) dan P3K
Lokasi deket pantai menjadikan beberapa sumber air daerah sekitar .

sayang seribu kali sayang dilapangan tidak terlihat adanya direksi keet ukurang 4x 6 meter, Barak Pekerja, Gudang maupun kantor lapangan ukuran 3×4 meter sesuai ketentuaan dokumen lelang.

Pada hal setiap item-item pekerjaan proyek terdapat perhitungan alokasi dana hingga menjadi pembulatan yang tertuang dalam dokumen kontrak.

fakta yang ada dilapangan, pihak perusaahan hanya menyewa dua buah rumah warga, salah satu nya rumah bantuan pemerintah untuk warga kurang mampu dan satu lagi rumah warga setempat.

Sedangkan gudang untuk penumpukan bahan seperti kayu crocok dan lain-lain tidak kelihatan adanya.

Hal lain yang menjadi tanda tanya besar bagi masyarakat, yaitu sepatut nya pembangunan pengaman pantai disekitaran pantai desa muntai barat yang akan bangun oleh rekanan posisi batu pemecah ombak nya diperkira tidak sejajar dengan batu pemecah ombak yang telah dibangun sebelum nya.

Saat sosialisasi bersama masyarakat yang diselenggarakan oleh pihak Pengguna Barang/Jasa ( BWS III Sumatra) di Kantor camat bantan tgl 9/5/2023 menyangkut proyek pembangunan pengaman pantai pulau terluar lokasi desa muntai dan muntai barat, terungkap bawa lokasi pengaman pantai yang akan di bangun (brekwater) 45 meter lebih kelaut nya lagi dari Brekwater yang telah ada atau lebih berada pada posis laut. Alasan nya yang diutarakan oleh PPK proyek ( CAHAYO SENTOSO) seakan menggiring kehendak rekanan agar tongkang yang mengangkut batu tidak kandas jika lebih kelaut dari batu pengaman pantai yang telah ada, ungakap masyarakat yang ikut hadir dalam acara tersebut mencritakan hal tersebut kepada media ini
.

Jika hal itu yang dijadikan dasar terjadinya pergeseran posisi pembangunan pengaman pantai dari sehingga tidak sejajar dengan pengaman pantai yang telah dibangun sebelum nya, sangat tidak logika. Karena pembangunan pengaman pantai yang telah ada ternyata tongkang angkutan batu bisa sampai dan tidak kandas.

Satu hal yang perlu menjadi pehatian semua pihak termasuk BPK RI, jika pergeseran pembangunan pengaman pantai lebih ketengah laut lagi dari yang ada, otomatis keberadaan pengaman pantai tersebut diduga tidak akan mampu berfungsi untuk memecah ombak menerjang tebing pantai. Karena jarak antara pengaman pantai dengan tebing pantai jauh nya mencapai kurang lebih empat ratus meter, ketika terjadi musim angin ombak besar, setalah melewati pengaman pantai yang akan dibangun , akan mampu mencitkan lagi ombak baru yang akan menghantam tebing pulau mengakibatkan terjadi abrasi pantai, sehingga keberadaan pengaman pantai tersebut dipredeksi tidak akan berarti apa-apa dalam upaya mencegah terjadinya abrasi pantai yang menjadi maksud dan tujuan pembangunan pengaman pantai pulau terluar oleh pemerintah.

Oleh karena itu sejumlah masyarakat termasuk Ketua BPD Desa Muntai Barat ( Ramli) bersama rekanan sejawat nya Mad.Khaidir saat berbincang-bincang bersama media ini, mereka berharap agar pembangunan pengaman pantai yang akan dibangun bisa sejajar dengan batu pengaman pantai yang telah terbangun sebelum nya. Kemudian harapan nya lagi agar setiap seratus meter dibuat ruang terpisah kurang lebih 25 meter agar memeberikan ruang laluan perahu nelayan sekalaigus membuat jarak pengaman pantai makin memanjang . Karena menurut mereka ruang- ruang sejauh 25 meter jarak antara satu sama lain tidak berpengaruh tercipta ombak, menurut nya contoh telah terbukti seperti dikuala sungai penurun desa muntai barat yeng telah terbangun pengaman pantai.

Ruang kuala sungai tersebut antara pengaman pantai ke pengaman pantai sambungan nya di buat ruang sejauh lima puluh meter, hasil nya ruang yang kosong untuk kuala sungai aman dan tidak terjadi keruntuhan tebing.

Laporan tim Wartawan Bengkalia ( Slhn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *