• Sat. Jun 15th, 2024

Hanya 4 Kompang Yang Ditabuh Tapi Bagai Belasan Kompang

Byadmin

Jan 29, 2023

AMANAT BENGKALIS – Kehadiran Sekolah Dasar Swasta Islam Terpadu (SDS IT) Ibu Harapan, Bengkalis Riau yang identik menciptakan generasi Islami telah mampu mengambil hati para orang tua untuk mengantarkan anaknya ke sekolah yang beralamat di Jalan Wonosari Tengah, Desa Wonosari ini.

Sholat Dhuha, menghafal Al-Qur’an, menjadi imam sholat Zuhur di kelas, dan sangat kentara adalah adab sopan santun serta etika ratusan pelajar di sekolah dengan Akreditasi B ini begitu kentara di wajah calon pemimpin negeri ini.

Bahkan, sejak 2 bulan terakhir sekolah yang masih memanfaatkan bangunan milik pemerintah yang belum digunakan ini telah pula menambah satu kegiatan ekstrakulikuler “Menabuh Kompang” yang diajarkan seorang guru Taufik Akbar yang mulai menjadi guru Bimbingan dan Konseling (BK) alumni Universitas Islam Riau (UIR) sejak setengah tahun ini.

Dikatakan Taufik Akbar, dalam menabuh Kompang ada beberapa pukulan inti dan ada beberapa pukulan tambahan. “Alhamdulillah, anak-anak yang saye ajo ni, kebetulan pukulan intinye ade pukulan Mabon, Tratat Mecah, Tratat Selang, Selang Ngendong, dan Mecah Ngendong. Jadi, pukulan-pukulan ini disatukan akan sedikit padat,” kata Taufik Akbar kepada pantau riau.com, Jum’at (27/01/2023) petang mengawali wawancara.

Yang membuat jurnalis media ini sedikit kaget, saat baru tiba di parkiran suara tabuhan kompang yang terdengar bagaikan dari belasan anggota kompang, tapi begitu menjengah ke aula tempat anak-anak latihan hanya ada 3 anak dan ditambah Taufik Akbar sang pengajar asal Desa Bantan Tua ini yang menabuh kompang. Meskipun hanya empat kompang yang ditabuh, pukulan yang dihasilkan sangat padat sebagaimana dijelaskan Taufik tadi.

“Hari ini tu anak-anak banyak yang tak datang karene beberapa hari keberangkatan banyak yang demam kene hujan. Alhamdulillah, yang lain pukulannye dah hafal cume untuk main kompang sambil berzanji masih baru kami mulai,” ungkap Taufik dalam dialek bahasa Melayu Pesisirnya seraya menyebutkan anggota kompang tadi pernah sekali bermain kompang “Berarak” di depan khalayak saat Wisuda Tahfiz SDS IT beberapa waktu lalu.

Taufik Akbar yang belajar menabuh kompang dari sang kakek M Yusuf menguasai semua pukulan kompang hanya beberapa lagu Berzanji saja yang tidak dikuasai Taufik yang mengaku rindu jika tidak berada di sekolah bersama rekan gurunya dan anak-anaknya yang mulai masuk sekolah pukul tujuh pagi dan pulang pukul 15.30 WIB kecuali Jum’at yang pulang pukul 10.30 WIB di sekolah dengan jumlah murid 640an orang dan guru seramai 64 orang.

“Harapan saye semoge anak-anak ini dapat bemain kompang, ketike sudah dapat jangan pulak sombong, tetap lestarikan budaye kite seperti orang-orang tue dulu mewariskan kepade kite,” harap Taufik Akbar yang mengaku jika mendengar suara kompang ada rasa ingin tahu.

Fauzan Arifa pelajar kelas V anak pasangan Syairoji dan Ismawati tinggal di Jalan Antara yang hafal 2 juz Al-Qur’an yang bercita-cita menjadi ustadz ini mengaku senang bisa menabuh kompang. Begitu juga, Muhammad Dzikri kelas VI hafal 4 juz Al-Qur’an anak dari Saidi dan Tuti yang tinggal di Simpang Bangkinang senada dengan Fauzan. Dahulu dirinya pernah belajar menabuh kompang di kampungnya tapi sering dibully sehingga dirinya berhenti belajar menabuh kompang. “Dulu kene ejek,” kata Dzikri yang juga bercita-cita menjadi ustadz ini. Kemudian, Muhammad Naufal Febrian pelajar kelas V hafal 2 juz Al-Qur’an yang bercita-cita menjadi polisi anak Kamaruzaman dan Suhana yang tinggal di Kelapapati Darat.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *